(0370) 644395 | Telp/WA : 081339722822 | 081917012931 | 081999102416 tiaratravel_lombok@yahoo.com

Lombok memang sudah terkenal dengan keindahan alamnya baik itu pantai, pulau, dan gunung yang indah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, untuk kali ini kami ingin memperkenalkan sisi lain dari lombok bahwa di lombok tidak hanya kaya akan keindahan alam tapi kaya juga akan budaya dan adat istiadat, berikut kami perkenalkan budaya dan adat istiadat apa aja yang ada di lombok sebagai berikut :

1. Ngayu Ayu

Upacara Adat Ngayu-ayu diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara. Sebuah acara adat yang diadakan setiap 3 tahun sekali, dan sudah turun temurun sejak lebih dari 600 tahun yang lalu. Ritual Ngayu Ayu merupakan bentuk rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas diberikan kelimpahan hasil bumi, terhindar dari bencana, dan masyarakat diharapkan terhindar dari penyakit-penyakit yang konon di zaman dahulu sering dialami oleh masyarakat setempat.

Selain itu Ritual Ngayu Ayu merupakan bentuk syukur atas tumbuh suburnya padi merah (pade abang) yang dimana tipikal tanaman ini tidak tumbuh di sembarang tempat. Di hari pertama, pengumpulan air dari sumber mata air yang mengalir dan dimanfaatkan oleh Masyarakat Sembalun. Air tersebut didiamkan selama satu malam di rumah-rumah ketua adat. Keesokan harinya dikumpulkan menjadi satu di Makam Adat yang terletak di sebelah barat Lapangan Sembalun Bumbung.

Adapun tujuan dari pengumpulan air dari tujuh sumber mata air ini merupakan simbol atas rasa syukur masyarakat Sembalun atas berlimpahnya hasil bumi di tanah Sembalun. Hari kedua dimulai dengan acara penyembelihan kerbau yang dilakukan oleh ketua-ketua adat yang selanjutnya kepala kerbau tersebut ditanam sebagai pasak bumi (pengaman) Desa Sembalun dari bala bencana.

Kemudian dagingnya dimasak oleh ibu-ibu setempat untuk disajikan dan disantap bersama-sama yang dalam istilah Bahasa Sasaknya adalah “Begibung”. Setelah itu, diadakan Ritual Mafakin, dimana ritual ini para Ketua Adat membacakan bacaan-bacaan selama prosesi penurunan bibit padi merah (pade abang) dari lembang sampai proses penyemaian. Yang selanjutnya diadakan perang topat.

Setelah prosesi di atas, masyarakat mengitari makam adat sebanyak sembilan kali putaran masing-masing ketua adat atau yang diwakilkan oleh anaknya menggendong air dari tujuh sumber mata air sebelum dikumpulkan menjadi satu di dalam makam.

2. PRAJE

Praje merupakan upacara adat tradisional khas Lombok, acara ini di adakan apabila ada anak laki-laki yang akan di khitan.

Sebenarnya banyak sekali tradisi adat istiadat suku sasak yang mulai ditinggalkan penduduk asli Sasak sendiri, salah satunya adalah Praje.  Konon acara atau ritual Praje tersebut sudah ada sejak enam abad yang lalu. Praje merupakan salah satu tradisi Beponggoq (Ponggoq: Bahasa Sasak = dipikul) baik pada acara Nyongkolan (nikahan) maupun acara Khitanan.

Jika di Jawa biasanya anak yang setelah dikhitan duduk di atas pelaminan bak pengantin yang merayakan kebahagiaan, kemudian bersalaman dengan beberapa tamu undangan yang datang. Sedikit berbeda dengan Suku Sasak dari Lombok, anak yang sebelum dikhitan menggunakan pakaian pengantin kecil, di kepalanya dipasang capuq atau accessories kepala Suku Sasak seperti udeng yang dikenakan orang Bali. Kemudian duduk di atas kuda kayu, lalu diarak oleh beberapa warga keliling kampung dengan cara memikul kuda kayu. Tak ayal jika jalanan menjadi ramai dan macet karena prosesi arak-arakan. Selain itu, yang mengarak pun sesekali mendendangkan musik tradisional yaitu Gendang Beleq asli Suku Sasak.  Dan sesekali mereka berjoget agar terdengar riuh.

 

Praje dan Gendang Beleq biasanya disewa harganya mencapai jutaan rupiah dalam satu kali pelaksanaan ritual. Gendang Beleq sendiri artinya ‘gendang besar’ karena memiliki ukuran yang besar melebihi ukuran normalnya.  Gendang Beleq awalnya diciptakan untuk mengiringi dan menghibur para prajurit menuju medan perang dan menyambut kedatangan dari medan perang, namun beralihnya perkembangan zaman Gendang Beleq digunakan untuk menyambut kedatangan tamu pada acara-acara tertentu, seperti halnya pada Praje Besunat.

Memang terlihat seperti sunat masal, karena yang diarak terkadang bukan hanya satu anak, namun tiga sampai tujuh anak. Dan beberapa dari mereka masih mempunyai aliran darah keluarga. Konon, tujuan arak-arakan tersebut agar anak yang dikhitan tidak terlalu tegang menjelang prosesi khitan berlangsung. Biasanya Praje Besunat dilaksanakan bersamaan pada perayaan Maulid Nabi.

Pin It on Pinterest

Share This